OPINI
Menyikapi
Pentingnya Peneladanan Dharma Perguruan Tinggi
Menanggapi tulisan yang berjudul Peneladanan
Dharma Perguruan Tinggi, mungkin memang benar apa yang telah disampaikan oleh
penulis sekaligus dosen UPGRIS, Setia Naka Andrian, S.Pd., M.Pd. Bahwasanya
memang seorang dosen itu jangan hanya sebatas mengajar untuk sekedar menunaikan
tugas sebagai pengajar tetapi juga harus melaksanakan Tri Dharma Perguruan
Tinggi. Karena pada dasarnya Tri Dharma Perguruan Tinggi itu perlu demi
mewujudkan kualitas dosen yang mampu dijadikan contoh. Contoh yang bukan hanya
bagi mahasiswa namun bagi masyarakat juga.
Mengingat peran perguruan tinggi yang
sangat penting bagi terbentuknya sumber daya manusia yang kreatif, inovatif,
unggul, berbudi luhur dan melek iptek, maka dosen harus mampu memberikan
peneladanan, karena memang dharma peneladanan itu menjadi keutamaan dari dharma
– dharma lainnya. Jadi peneladanan itu memang harus dan wajib diterapkan dalam
setiap aspek kegiatan sebagai proses pembentukan karakter yang bermutu.
Dalam pembentukan karakter generasi
muda, Perguruan Tinggi mempunyai tanggung jawab besar didalamnya. Karena di Perguruan
Tinggi itulah menjadi penentu akan seperti apa nantinya. Jika Perguruan Tinggi
tidak memberikan sebuah peneladanan kepada mahasiswa yang umumnya para generasi
muda melalui dosen maka sulit bagi generasi muda untuk mampu bersaing
menunjukkan kualitas jati diri bangsa dihadapan para pesaing yaitu bangsa yang
lain.
Terpojoknya
Sekolah Tanpa Lebel Favorit
Sekolah favorit menjadi sekolah tujuan
pertama yang dilirik oleh kebanyakan calon peserta didik baru, begitupun juga para
orang tua ikut andil dalam pemilihan sekolah yang merujuk pada sekolah favorit.
Sekolah favorit merupakan sekolah yang mereka anggap sebagai tempat terbaik
dalam menuntut ilmu karena terdapat embel – embel favorit dan terlihat unggul
tentunya disbanding yang lain.
Namun pada saat sekarang ini karena
sangking banyaknya yang terobsesi ingin masuk sekolah berlebel favorit, banyak
orang tua yang sampai rela memberikan uang belakang sebagai jaminan agar
anaknya dapat masuk kesekolah tersebut. Anehnya pihak sekolahpun tidak menolak
bahkn dengan mudahnya menerima. Apa yang sebenarnya melatar belakangi hal
itu??? Tentunya hanya mereka yang tau. Jadi tidak semua sekolah favorit
merupakan tempat bagi anak – anak unggulan, tp anak yang berkemampuan standart
namun dia orang mampu pasti dengan mudahnya bisa meduduki kursi kosong
didalamnya karena adanya uang belakang.
Dengan beredarnya sekolah berstatus
favorit, semakin membuat sekolah yang tidak memiliki status favorit menjadi tersingkirkan,
apalagi ditambah dengan ketertinggalannya fasilitas seperti buku dari
pemerintah mengenai kurikulum 2013 dan juga tidak adanya jangkauan internet
khususnya bagi sekolah diplosok pedalaman,
padahal fasilitas itu sangat dianjurkan bagi pengguna kurikulum 2013. Hal itu
semakin membuat sekolah tanpa status favorit tidak dilirik. Tapi bukan berarti
tidak punya peserta didik, memang ada dan yang berprestasipun ada namun tidak
sebanyak yang disekolah favorit dan kebanyakan yang bersekolah disekolah tanpa
status favorit mereka itulah orang – orang yang tidak diterima disekolah
favorit.
Sekolah dianggap mempunyai standar
favorit jika dinilai telah memenuhi delapan standar yang ditetapkan oleh Badan
Standar Nasional Pendidikan. Jika semua sekolah disamaratakan bararti masing –
masing sekolah harus memenuhi delapan standar tersebut, sedangkan masih ada
sekolah yang kekurangan tenaga kerja pengajar, kekurangan pendanaan dan juga
sulitnya dari jangkaun transportasi. Apakah semua sekolah mampu disamaratakan??
Pasti banyak yang harus dipertanyakan dan juga membutuhkan kerja keras untuk
mampu mencapi sekolah berlebel favorit dan tentunya itu membutuhkan waktu yang
tidak sebentar, namun bukan tidak mungkin itu bisa saja terjadi. Tetapi yang
terpenting semua sekolah harus mempunyai tujuan yang sama yaitu mencerdaskan
kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa.
Perayaan
Kemerdekaan Yang Menjadi Tradisi
Seiring bertambahnya umur bangsa
pemaknaan memperingati hari merdeka tetap saja sama dan tidak ada bedanya.
Mengadakan berbagai lomba itulah yang mereka anggap sebagai cara mereka untuk
memperingati hari merdeka. Padahal jika kita memutar waktu ke masa lalu betapa
susahnya para pejuang untuk memerdekakan bangsa ini, tak peduli darah
bercucuran bahkan nyawapun mereka korbankan.
Yang ada dalam benak ini, mengapa hari
merdeka dirayakan dengan bersuka ria?? Jika jawabannya untuk mempermudahkan
anak – anak mengenal hari meredeka apakah itu bukan hal yang keliru?? Padahal
jika dicermati lagi perjuangan para pahlawan untuk memerdekakan bangsa ini
tidaklah dengan mudahnya, tidak juga dengan riang gembira, bahkan tidak juga
dengan tertawa terbahak – bahak dengan mulut yang membuka lebar namun dengan
nyawa yang mereka punya.
Lantas mengapa sampai sekarang masih
dirayakan dengan berbagai perlombaan seperti itu?? Apakah kita tidak malu jika
para pejuang melihatnya?? Itulah yang masih menjadi pikiran dan siapa yang
mengawali tradisi itu, sayapun belum tau.
Oleh
karenanya rasa nasionalisme itu perlu ditanamkan sejak dini. Dan pemaknaan hari
merdeka juga harus ditempatkan sesuai hakikatnya, alangkah lebih baiknya jika
hari kemerdekaan diisi dengan hal – hal yang bermanfaat demi terwujudnya bangsa
Indonesia yang lebih mandiri.
Comments
Post a Comment