wacana
Semilir Kebahagiaan
Untuk ‘ODHA’
Sudah
terungkap secara gamblang bahwa Aids banyak menjangkiti masyarakat di
Indonesia, tidak banyak dari mereka yang hanya pasrah dengan nasib didepan mata.
Namun, ada beberapa yang terus bersemangat untuk memperjuangkan hidupnya
walaupun seperti sedang hidup dibawah tekanan karena sikap dan perlakuan
stigmasi dan diskriminasi oleh masyarakt yang ditunjukkan dengan cara menjauhi,
mengucilkan, menolak dan menghindari keberadaannya. Miris Memang, namun itulah yang terjadi secara nyata di
negeri ini karena mungkin kurangnya pengetahuan masyarakat akan bagaimana cara
menyikapi penderita penyakit Aids itu sendiri.
Salah memang,
jika masyarakat terus memandang buruk
penderita dengan penyakit Aids karena tidak sepenuhnya penyakit itu datang dari
kesalahan ulah buruknya sendiri. Pemikiran masyarakat yang beranggapan bahwa HIV/AIDS akan
menular hanya dengan berdekatan secara langsung
dengan penderita HIV/AIDS,
itu juga merupakan anggapan yang salah karena penularan
HIV/AIDS tidak semudah yang dibayangkan. Oleh
karenanya, tidak sepantasnya jika masyarakat melakukan sikap stigmasi
dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Hal tersebut
bukan malah membuatnya bisa bertahan menjalani hidup dan tetap mampu
mandiri dan berkarya, tetapi malah dapat mengakibatkan penyakitnya semakin parah, tertekan dan lama-kelamaan depresi, dan
dapat menyebabkan gangguan emosi. Walaupun memang benar terbukti
bahwa Aids merupakan penyakit mematikan paling serius dalam sejarah manusia
yang dikarenakan oleh adanya virus HIV didalam tubuh yang dapat menular melalui hubungan intim (vaginal, anal, ataupun oral),
transfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama
kehamilan, bersalin, atau menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan
cairan-cairan tubuh tersebut.
Keberadaan ODHA juga disinggung dalam Kebijakan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 21 Tahun 2013 tentang Penanggulangan HIV dan AIDS, mengatur secara
komprehensif dan berkesinambungan yang terdiri atas promosi kesehatan,
pencegahan, diagnosis, pengobatan dan rehabilitasi terhadap individu, keluarga,
dan masyarakat. Tujuan dari pengaturan penanggulangan HIV dan AIDS
adalah: menurunkan hingga meniadakan infeksi HIV baru; menurunkan hingga
meniadakan kematian yang disebabkan oleh keadaan yang berkaitan dengan AIDS;
meniadakan diskriminasi terhadap ODHA; meningkatkan kualitas hidup ODHA; mengurangi
dampak sosial ekonomi dari penyakit HIV dan AIDS pada individu, keluarga
dan masyarakat.
Perlakuan diskriminasi terhadap ODHA
dalam segala bentuknya dapat dikategorikan sebagai pelanggaran HAM sebagai
manusia yang bermartabat dan mempunyai harga diri, sebab hak-hak asasi sebagai
manusia masih melekat sekalipun pada ODHA. Nilai-nilai egalitarian, keadilan
sosial, dan equality yang
terkandung dalam nilai-nilai universal yang harus dihormati telah dilecehkan
dan dapat dikategorikan sebagai kejahatan international, ketika struktur dan
sistem sosial masyarakat memperlakukan ODHA secara diskriminatif. Hak
fundamental yang dimiliki oleh ODHA adalah hak hidup, berserikat, dan
berkembang yang sudah dijamin oleh Pernyataan Umum mengenai Hak Asasi Manusia–The
Declaration of Human Rights—tahun 1948 dan konstitusi WHO tahun 1946,
Pada konvensi internasional tentang hak ekonomi, sosial, ekonomi, budaya pada
tahun 1966, hak atas kesehatan tersebut kembali ditegaskan sebagai hak
fundamental.
Berkenaan dengan
permasalahan AIDS, mengingatkan kita pada tanggal 1 Desember dimana pada waktu
itu seluruh masyarakat dibanyak negara memperingati Hari Aids Sedunia. Saya
jadi teringat pesan dari dubes AS yaitu Robert O. Blake yang menyampaikan bahwa
“Hari
AIDS Sedunia 2015 menjadi kesempatan untuk menghormati orang-orang yang telah
kehilangan nyawa karena virus HIV/AIDS, orang-orang
yang hidup dengan HIV/AIDS, dan orang-orang yang
memberikan perawatan, keluarga, teman-teman, dan masyarakat yang mendukungnya”. Barang tentu perkataannya memang benar karena dengan
adanya peringatan hari Aids ini, yang pada umumnya dilakukan dengan berbagai
aksi dan kegiatan sosial akan menjadikan para penderita Aids lebih merasa bahwa
keberadaan mereka dihormati oleh masyarakat, tidak dikucilkan bahkan
tersingkirkan. Peringatan tersebut dilaksanakan juga supaya setiap orang
mengerti akan bahayanya wabah penyakit Aids itu. Menurut World Health
Organization (WHO) yang dilaporkan oleh IB Times, menganggap bahwa peringatan
ini juga menjadi cara efektif untuk mengakhiri wabah Aids.
Mengenai pejuang Aids, saya pernah membaca
berita bahwa ada seorang ibu walaupun virus mematikan hidup dalam tubuhnya. Namun, semangatnya mendidik anak bangsa tak pernah pupus. Ibu ratna namanya, beliau guru agama
di sebuah Sekolah Menengah Kejuruan
dan tinggal di pulau paling timur Indonesia. Beliau mengatakan bahwa "Saya
pernah menganggap diri saya tidak berguna setelah terinfeksi HIV. Saya tidak
ingin orang mengalaminya,".
Karena itu beliau menyadarkan pentingnya menangkis HIV/AIDS pada 120 muridnya lewat pelajaran muatan
lokal khusus tentang HIV, serta memberdayakan Orang dengan HIV/AIDS (ODHA)
anggota Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) Sorong Sehati. Beliau juga mengatakan "Saya mau
menghapus stigma pada ODHA. Saya mau menghapus diskriminasi," itulah kata-kata yang dijadikan motivasi
untuk coming out sebagai ODHA. Atas segala usaha dan perjuangaannya
beliau bahkan sudah coming
out sebagai ODHA.
Kemudian ada juga, mantan pemain
tim nasional Kenya yang berani
berbicara terbuka mengenai dirinya yang terjangkit virus HIV, Wanyama Nelson namanya. Wanyama mengenal sepak bola dari keluarganya. Sejak usia 12 tahun,
dia mulai menendang si kulit bundar di kampung halamannya di Eldoret, Kenya
bagian barat. Melalui sepak bola
pula, Wanyama memupuk harapan untuk lepas dari kemiskinan. Dia mendapatkan
panggilan dari tim nasional pada usia 20. "Saya
menjadi pria muda dengan banyak uang. Dengan sepak bola, Anda menerima bayaran
dan tidak akan merasa lapar," itulah
kata-kata yang menunjukkan bahwa betapa bahagianya dia telah mampu meraih
impiannya walaupun hidup dengan virus HIV didalam tubuhnya. Semua itu bisa
terjadi karena kesungguhan dan niat yang disertai usaha secara maksimal.
Dari penggalan cerita itu sudah terlihat
bahwa sebenarnya bukan perkara mampu ataupun tidak mampu untuk dapat meraih
sebuah impian, tetapi perkara niat, jika hati sudah tertanam niat pasti untuk
melangkahpun mudah, rasa kuat selalu menyatu, semangat kegigihan selalu
tertanam, tidak juga peduli virus sedang menjalar dalam tubuh dan bahkan
berfikir cerdas untuk mampu melawan penyakit itu. Walaupun dari segi kesehatan
mempunyai keterbatasan sehingga sedikit membedakan dengan yang lain, tetapi hak
dan kewajiban sebagai manusia sepantasnya sejajar dengan manusia yang lainnya. Tidak
ada yang tidak mungkin didunia ini asalkan mau usaha dan kerja keras dengan
sungguh-sungguh.
Perlu diingat, bahwa ODHA juga berhak
mendapat pengakuan dalam masyarakat dan hidup nyaman layaknya orang sehat
lainnya. Mereka adalah warga negara yang mempunyai hak sama. Jadi jangan pinggirkan mereka, jangan
kucilkan mereka. Rangkul mereka dalam satu keluarga besar kehidupan
bermasyarakat sosial di lingkungan kita. Berikanlah semangat juga motivasi kepada mereka,
agar mereka yakin mampu melawan penyakitnya dan yakin mampu memperjuangkan hak
serta impiannya. Berhentilah menjauhi penderitanya karena yang pantas dijauhi
adalah penyakitnya. Semangat 1 Desember, salam Hari Aids Sedunia. ***
Comments
Post a Comment