Pentigraf by Ekarizkya

Dilanda Rindu

Semakin hari kerinduan begitu memekik, berharap segera temu sebab benar adanya rindu itu berat bagi yang tidak siap. Sudah hampir tengah malam, mereka seperti tak ingin mengakhiri percakapannya lewat panggilan video disalah satu aplikasi chatting. Saling berucap rindu dan menghitung hari tanpa temu sejak terakhir mereka menghabiskan waktu disebuah cafe minimalis bertingkat yang dibangun di daerah dataran tinggi, sehingga ketika malam tiba pemandangan lampu terang begitu memanjakan sepasang itu. "Sayang, tidak terasa ya, hampir tiga bulan kita berhubungan tapi dengan jarak berjauhan," ujar perempuan itu sambil melirikkan bola matanya ke atas langit-langit kamar, seolah sedang memaksa air mata untuk tertahan. Seorang yang dipanggil sayang itu, lantas membalasnya dengan tenang dan memberi pengertian supaya tak menjadi persoalan besar untuk hubungan mereka. 

Sebagai sepasang yang terpaksa berjarak, sebab sang perempuan di tempat tinggalnya, sedang sang laki-laki itu bekerja di luar kota, wajar saja jika kekhawatiran akan adanya jarak itu begitu besar. Terlebih seorang perempuan yang pada dasarnya memikirkan sesuatu atas dasar perasaan bukan berdasarkan akal. Tak siap jika kemudian harus menghadapi sebuah kenyataan yang sebelumnya menjadi kekhawatirannya itu. Meskipun begitu, sebagai sepasang yang telah lama mengenal dan sudah terikat suci dalam hubungan pernikahan, sudah pasti saling memahami dan mengerti betul seperti apa sifat dan tingkah laku setiap diri mereka masing-masing. Jika kemudian ada yang perlu disalahkan atas hadirnya kerinduan itu sebenarnya bukan jarak, melainkan keegoisan pikiran yang berdalih menjadi sebuah rindu. 

"Percayalah, aku disini akan tetap dengan cinta yang sama untukmu. Jika kamu berpikir aku tidak dapat setia, coba kamu ingat kembali bagaimana dulu perjuanganku mendapatkan dirimu, istriku," dengan nada bijaksana, perkataan itu cukup membuat hati Sintia sang istri menjadi berkurang khawatir. Kebijaksanaannya dan perkataannya yang menenangkan itulah yang sebenarnya menjadikan Sintia takluk hatinya untuk mantap menerima Reno menjadi suaminya. Tak lama, mereka mengakhiri panggilan videonya dengan saling berucap I Love You sembari memperlihatkan senyum termanisnya. Begitu kebiasaan mereka sebelum sama-sama terlelap bersama mimpi masing-masing. Dengan pengharapan agar cinta itu akan selalu ada dan terus bertumbuh sampai tidak akan ada tempat bagi orang lain untuk mengisinya.

Comments

Popular posts from this blog

cerita singkat

Cerita Film Soekarno

opini